
13/8/2025
Pameran Pembangunan Karangasem Peringatan HUT RI Ke – 80 Tahun.
Pada Hari Rabu, Tanggal 13 Agustus 2025. Desa Bukit Ditunjuk Untuk Tampil Mewakili Parade Gong Kebyar Dewasa Sebagai Duta Kecamatan Karangasem. Menampilkan 3 Tabuh (Panglong Jiwa, Tari Teruna Jaya, Hujan Kesanga) Sekha Gong Giri Garjita Desa Bukit pentas diatas Panggung Yang Bertempat Di Taman Budaya - Candrabuana. Salah satunya menampilkan Tarian Tari Teruna jaya. Dengan filosofi tarian sebagai berikut :
Filosofi Tari Teruna Jaya berasal dari budaya Bali, khususnya dari daerah Buleleng, Bali Utara. Tarian ini merupakan salah satu tari tradisional Bali yang sangat terkenal dan sering ditampilkan dalam pertunjukan seni maupun upacara adat.
Berikut adalah makna dan filosofi dari Tari Teruna Jaya:
- Makna Nama "Teruna Jaya"
- "Teruna" berarti pemuda.
- "Jaya" berarti kemenangan atau kejayaan.
Jadi, "Teruna Jaya" secara harfiah berarti "Pemuda yang Jaya atau Menang", melambangkan semangat, kekuatan, dan kejayaan pemuda Bali.
- Filosofi Gerakan Tari
- Gerakan Tari Teruna Jaya sangat ekspresif, energik, dan penuh emosi.
- Menggambarkan perjuangan, kegelisahan, dan emosi dinamis seorang pemuda yang sedang mencari jati diri.
- Terkadang ada ekspresi marah, senang, sombong, hingga agresif — menggambarkan perubahan emosi yang dialami dalam proses pendewasaan.
- Unsur Maskulinitas & Femininitas
Menariknya, meskipun temanya tentang pemuda, tarian ini sering dibawakan oleh penari perempuan, tetapi dengan gaya yang maskulin dan tegas. Ini mencerminkan:
- Keseimbangan antara kekuatan dan keindahan.
- Kemampuan perempuan untuk membawakan peran yang penuh tenaga dan berkarakter kuat.
- Nilai-nilai dalam Tari Teruna Jaya
- Semangat Juang: Representasi semangat generasi muda yang bergelora.
- Perubahan Emosi: Simbol dinamika kehidupan dan pencarian jati diri.
- Keseimbangan: Antara keindahan dan kekuatan, laki-laki dan perempuan, fisik dan emosi.
- Kejayaan: Simbol harapan akan masa depan yang cemerlang bagi pemuda Bali.
Asal dan Pencipta
- Diciptakan oleh I Gede Manik pada awal abad ke-20.
- Awalnya dikembangkan di Buleleng dan kini menyebar ke seluruh Bali sebagai tari hiburan dan pertunjukan budaya.
Dan Sekha Gong Giri Garjita Desa Bukit Duta Kecamatan Karangasem meraih Juara 2.
Pembina Tabuh : I Wayan Tedi Wirawan Dan I Gusti Agus Putu Wirnawa
Penanggung Jawab : Perbekel Bukit Dan Camat Karangasem.


.jpeg)